BEKERJA AMAN DEKAT KABEL LISTRIK BAWAH TANAH

Pekerjaan instalasi sistem proteksi katodik ataupun pekerjaan lain yang memerlukan penggalian atau masuk kedalam lubang bawah tanah mempunyai risiko untuk bersentuhan dengan kabel listrik AC bawah tanah milik PLN. Risiko ini sangat besar karena dapat mengakibatkan cedera berat hingga meningal dunia. Voltase jaringan listrik transmisi bawah tanah milik PLN berkisar 150 KV yang kemudian akan diturunkan untuk jaringan listrik distribusi sebesar 20 KV. Untuk disalurkan ke rumah-rumah, listrik 20 KV tersebut kemudian akan di turunkan di gardu trafo distribusi menjadi 380/220 V.

NACE RP 0177 “Mitigation of Alternating Current and Lightning Effects on Metallic Structures and Corrosion Control Systems” memberikan standard terhadap listrik AC ini dengan menyatakan bahwa pengaruh listrik AC harus dikurangi sesuai batas yang telah ditentukan  untuk menghindari personil terhadap bahaya syok listrik. Efek listrik AC akan berbeda untuk masing-masing orang, tergantung dari voltage level, waktu kontak, tubuh manusia, kelembaban kulit, jalur dan besarnya aliran arus listrik pada tubuh. Batas aman voltase AC yang masih bisa ditolerir tubuh manusia  adalah sebesar 15 V dan arus listrik tidak lebih dari 5 mA. Tabel dibawah ini akan menjelaskan nilai tahanan dan efek dari arus listrik yang mengalir pada tubuh manusia.

Gambar 1. Human Resistance
Gambar 2. AC Values Affecting Human Beings

Sensasi tersetrum akan mulai dirasakan oleh manusia ketika ada arus listrik yang mengalir 1 mA sampai dengan 8 mA. Tidak menimbulkan rasa sakit ataupun cedera, namun akan sedikit memberikan reflek kejutan pada manusia. Sengatan arus listrik di atas 10mA dapat menyebabkan nyeri otot yang cukup parah sehingga korban kesulitan melepaskan konduktor akibat kejang otot. Arus diantara 100mA dan 200mA (50 Hz AC) dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel pada jantung sehingga berisiko kematian.Besarnya tegangan yang menghasilkan arus berisiko fatal bergantung pada resistansi dari kulit. Kulit yang basah dapat memiliki resistansi setidaknya 150 Ω dan kulit yang kering 15 kΩ. Nilai resistansi tangan dan kaki diperkirakan sebesar 100 Ω dan tubuh 200 Ω. Dari nilai-nilai resistansi tersebut,diperkirakan bahwa tegangan 240 Volt dapat menyebabkan arus listrik sekitar 500mA mengalir melalui tubuh dengan kondisi kulit basah, sehingga dapat berisiko fatal.

Jalur jalan arus listrik pada tubuh juga mempengaruhi tingkat risikonya. Arus sebesar 100 mA  yang mengalir melalui kepala atau dada bagian atas menjadikan risiko kematian hampir pasti, dan terbukti fatal pada penderita gangguan koroner. Arus listrik yang mengalir melalui tubuh dipengaruhi oleh resistansi tubuh, resistansi antara tubuh dengan lantai, dan tegangan sumber. Jika kulit basah, maka jantung akan lemah dan kontak antara tubuh dengan lantai menjadi besar dan langsung, sehingga tegangan sebesar 40 Volt dapat berisiko fatal. Oleh karena itu, hindari mengambil risiko walaupun  dengan tegangan “rendah” sekalipun.

Tentu saja kita tidak bisa menghindari instalasi listrik bawah tanah, namun kita dapat mengurangi risiko bahaya listrik saat melakukan inspeksi ataupun instalasi system proteksi katodik. Alliant Energy Corporation sebuah perusahaan listrik di Wisconsin USA menerbitkan sebuah panduan untuk kontraktor bagaimana bekerja aman di dekat jalur listrik bawah tanah ataupun udara dengan beberapa langkah sebagai berikut :

  1. Saat mulai mengajukan penawaran, cek terlebih dahulu keberadaan kabel listrik bawah tanah atau udara yang perlu dipindahkan untuk dimasukkan menjadi biaya saat pengajuan.
  2. Sebelum memulai pekerjaan lakukan penandaan terhadap fasilitas listrik yang ada sehingga dapat menjauh dari lokasi bahaya.
  3. Lingkari area yang bertanda “Awas Listrik tegangan Tinggi”, “Disini tertanam Kabel tegangan Tinggi” atau lokasi yang diduga tertanam kabel listrik tegangan tinggi dan segera melakukan koordinasi dengan pemilik kabel untuk tindakan mitigasinya.
  4. Saat melakukan penggalian didekat lokasi yang terdapat kabel listrik maka sebaiknya penggalian dilakukan secara maksimal dan jaga jarak paling sedikit 24 inchi dari lokasi kabel. Jika tidak bisa mengatur jarak maka segera lakukan koordinasi dengan perusahaan listrik setempat untuk mitigasinya
  5. Saat diketahui ada peralatan kerja yang menyentuh kabel listrik yang terkelupas jangan sekali-sekali menyentuh peralatan tersebut. Koordinasikan dengan perusahaan listrik setempat untuk memastikan bahwa tidak ada aliran listrik lagi pada kabel tersebut.
  6. Jika ada seseorang yang kontak dengan kabel yang terkelupas maka jangan sekali-kali menyentuh atau berusaha menolongnya jika anda tidak terlatih untuk menangani kasus tersetrum seperti ini.

Health and Safety Guidance dari hsebooks.co.uk menulis petunjuk yang lengkap bagaimana bekerja di dekat fasilitas underground dan mengurangi risikonya. Dalam buku tersebut dituliskan 4 elemen penting yang harus disiapkan ketika bekerja didekat fasilitas bawah tanah yaitu :

  1. Rencana Sebelum Pekerjaan

Banyak potensi bahaya dapat dicegah dengan melakukan perencanaan sebelum pekerjaan yang meliputi :

  • Risk Assesment
  • Ijin Kerja
  • Design
  1. Rencana Kerja

Informasi yang lengkap mengenai fasilitas bawah tanah apa saja yang ada dilokasi pekerjaan perlu untuk diketahui sebelum pekerjaan penggalian dimulai dan kemudian melakukan kegiatan berikut :

  • Pemetaan Fasilitas bawah tanah
  • Pemasangan rambu-rambu untuk fasilitas bawah tanah
  • Persiapan untuk keadaan emergency jika tidak bisa didapatkan informasi yang cukup mengenai lokasi penggalian
  1. Pipe and Cable Locator

Informasi yang didapat dari pemilik fasilitas bawah tanah tidak bisa diketahui secara tepat titik lokasi yang sebenarnya, karena itu penggunaan cable locator menjadi sangat penting.

  1. Prosedur Penggalian Dengan Aman

Penggalian harus dilakukan dengan hati-hati dan mengikuti prosedur penggalian dengan aman. Jangan pernah menggunakan peralatan mekanik untuk melakukan penggalian didekat fasilitas underground, jika perlu dilakukan trial terlebih dahulu dengan menggunakan penggalian manual. Petunjuk tersebut memberikan perhatian yang khusus terhadap kabel yang tertanam dalam cor semen atau beton, dikatakan bahwa kabel yang tertanam dalam cor semen atau beton berbahaya karena ketika dilakukan pembongkaran secara mekanik dapat merusak kabel dan melukai pekerja.

Menurut Daman Susanto dalam bukunya jaringan distribusi bawah tanah ada beberapa isolasi untuk kabel dan salah satunya adalah XLPE (Cross Linked Poly Ethylene) yang mempunyai karakteristik lebih baik dibandingkan jenis isolasi lainnya dan penerapannya dapat digunakan untuk tegangan hingga 110 kV. Masing-masing karakteristik bahan isolasi adalah sebagai berikut :

Gambar 3. Karakteristik Umum Isolasi Bahan

Dalam buku tersebut disebutkan juga bahwa kabel yang keluar dari tanah harus diindungi dengan pipa baja atau bahan lain yang cukup kuat sehingga tidak bisa langsung bersentuhan dengan tangan.

 

Pipa gas  banyak berdekatan dengan utilitas lain, termasuk kabel listrik dan saat melakukan pekerjaan ataupun instalasi dan penggalian, kabel tersebut tidak bisa dipindahkan atau dilakukan re-route, karena itu jalan satu-satunya adalah pemberian pengaman tambahan agar kabel tersebut tidak terkelupas dan melukai pekerja. Berdasarkan hal tersebut diatas maka pengamanan tambahan dengan membungkus kabel listrik dengan pipa jenis PE atau XLPE mungkin bisa dilakukan dan jika diperlukan dilakukan lagi pengamanan dengan membungkusnya dengan pipa baja.

 

Referensi :

 

  1. NACE RP 0177 “Mitigation of Alternating Current and Lightning Effects on Metallic Structures and Corrosion Control Systems” , 2000
  2. Alliant Energy, “Work Safely Near Electricity and Natural Gas”
  3. co.uk, “Avoiding Danger Of Underground Services”, 2000
  4. Daman Suswanto, “Sistem Distribusi Tegangan Listrik”, FT Universitas negeri Padang, 2009 https://daman48.files.wordpress.com
  5. http://www.tf.itb.ac.id/files/2011/11/K3-Listrik.pdf