BAHAYA KABEL LISTRIK TEGANGAN TINGGI BAWAH TANAH SAAT INSTALASI SISTEM PROTEKSI KATODIK

Pekerjaan penggalian dan bekerja dibawah tanah adalah hal yang sering dilakukan oleh teknisi proteksi katodik saat melakukan inspeksi, analisa maupun saat melakukan instalasi sistem proteksi katodik. Ada hal yang belum pernah ataupun sangat minim sekali diberikan sebagai pembekalan untuk seorang teknisi proteksi katodik, yaitu mengenai potensi bahaya kabel listrik tegangan tinggi bawah tanah.  Kabel bawah tanah, bukan merupakan hal yang asing bahkan sering ditemukan saat penggalian. Bahkan banyak bak valve  pipa gas yang didalamnya terdapat instalasi listrik bawah tanah.

Gambar 1. Kabel Bawah Tanah
Gambar 2. Kabel Bawah Tanah Dalam Bak Valve

Kabel listrik bawah tanah berbahaya, jika tersentuh dalam keadaan terbuka dapat mengakibatkan cedera serius bahkan kematian. Dari beberapa artikel yang saya temukan di internet mengenai potensi  bahaya cedera atau kematian kabel listrik bawah tanah adalah dikarenakan kabel terkelupas, korsleting ataupun ledakan. Mengingat besarnya risiko yang dapat dialami oleh Teknisi Proteksi Katodik dalam melakukan inspeksi ataupun terhadap pipa gas bertekanan tinggi, maka  sudah saatnya dipikirkan solusi untuk mengatasi hal yang sudah umum ini. 

Gambar 3. Bahaya Tersetrum Kabel Bawah Tanah
Gambar 4. Ledakan Kabel Bawah Tanah

PLN selaku  penyedia listrik di Indonesia mempunyai saluran transmisi dan distribusi untuk menyalurkan listrik sampai ke pelanggan. Transmisi merupakan proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ketempat lainnya yang besaran tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi (UHV), Tegangan Ekstra Tinggi (EHV), Tegangan Tinggi (HV), Tegangan Menengah(MHV), dan Tegangan Rendah (LV). Standar tegangan tinggi yang berlaku di Indonesia adalah 30 KV, 70 KV, dan 150 KV

 

Berdasarkan pemasangannya, saluran transmisi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu saluran udara (overhead lines), saluran kabel bawah tanah (underground lines), dan saluran bawah laut (submarine cable).Pada sistem saluran kabel bawah tanah, tenaga listrik disalurkan melalui kabel-kabelseperti kabel bawah laut dengan berbagai macam isolasi pelindungnya. Saluran kabel bawah tanah ini dibuat untuk menghindari risiko bahaya yang terjadi pada pemukiman padat penduduk.

 

Sistem distribusi daya listrik meliputi semua Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20 KV dan semua Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 380/220 Volt hingga ke meter-meter pelanggan. Setiap elemen jaringan distribusi pada lokasi tertentu dipasang trafo-trafo distribusi, dimana tegangan distribusi 20 KV diturunkan ke level tegangan yanglebih rendah menjadi 380/220 Volt. Tenaga listrik yang lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari untukmengoperasikan peralatan-peralatan tersebut adalah listrik dengan tegangan yangrendah (380/220 Volt). Sedangkan tenaga listrik yang bertegangan menengah(sistem 20 KV) dan tegangan tinggi (sistem 150 KV) hanya dipergunakan sebagai sistem penyaluran (distribusi dan transmisi) untuk jarak yang jauh.

Gambar 5. SIstem Distribusi Listrik

Bila dibandingkan transmisi udara, saluran bawah tanah sebenarnya mempunyai kelemahan yang lebihmenonjol dari pada keunggulannya. Dari segi teknis,salah satu  kelemahan yang menonjol pada saluran transmisi bawah tanah adalah kemampuan membawa arus akan lebih rendah bila dibandingkan dengansaluran transmisi udara, sehingga pada saluran transmisi bawah tanah akan dibutuhkan media pendingin dan penampang penghantar yang jauh lebih besar dibandingkan dengan penampang penghantar yang dibutuhkan saluran transmisi udara untuk menyalurkanarus lebih besar. Disamping itu diperlukan pula ketahanan dielektrik dan isolasi pada penghantar saluran transmisi bawah tanah yang jauh lebih besar, sedangkan pada saluran transmisi udara panas yang muncul pada penghantar dapat dengan efektif dinetralisir oleh udara disekitarnya. Selain itu pada saluran transmisi udara akan lebih mudah untuk melayani pertumbuhan beban atau pengembangan sistem dari saluran transmisi bawahtanah.

Dari segi ekonomis, dengan dibutuhkan penghantar yang lebih besar, isolasi yang harus lebih tebal, selubung dan pelindung sepanjang kabel, terminal dan sambungan yang relatif  lebih banyak, serta system pendingin yang harus ada dan pemasangannya kedalam tanah membuat biaya pembuatan saluran transmisi bawah tanah jauh lebih mahal dibandingkan dengan saluran transmisi udara.

Akan tetapi saluran transmisi bawah tanah tetap diperhitungkan, karena pertimbangan konduktivitas pelayanan yang lebih baik, lebih handal, lebih aman bagi lingkungan (khususnya di daerah perkotaan yang banyak terdapat bangunan-bangunan tinggi). Pertimbangan yang lain adalah adanya desakan masyarakat yang semakin kuat, terutama kekhawatiran akan bahaya akibat berada dibawah medan listrik dan medan magnet yang ditimbulkan oleh saluran transmisi udara tegangan tinggi.

Kerusakan isolasi kabel bawah tanah menjadi isu yang sangat penting, karena dapat berpotensi bahaya yang lebih besar, sedangkan kerusakan isolasi itu sendiri tidak bisa dihindari. Belajar dari kejadian ledakan kabel bawah tanah di mangga besar, menurut analisa seorang pakar listrik diakibatkan oleh terdegradasinya system isolasi kabel.

Banyak faktor yang menyebabkan mengapa isolasi kabel dapat terdegradasi. Faktor alam seperti cuaca,panas, kelembaban, keasaman tanah, banjir dll,  memberikan sumbangan yang cukup signifikan terhadap menurunnya kualitas isolasi. Selain kerusakan isolasi, kabel bawah tanah juga memiliki resiko kerusakan fisik yang lebih besar. Adanya pembangunan gedung, penggalian tanah baru seperti pipa air minum dan sebagainya dapat meningkatkan resiko cacat pada isolasi kabel (terkelupas bahkan putus). Resiko akan makin besar jika dilokasi kabel banyak dihuni oleh binatang pengerat seperti tikus dsb.

Selain faktor eksternal, rusaknya sistem isolasi kabel dapat diakibatkan oleh buruknya kualitas dari listrik yang dialirkannya. Munculnya penyakit listrik modern seperti harmonisa menyebabkan temperatur kabel meningkat. Efeknya, struktur kimia dari isolasi kabel akan mengalami perubahan karakteristik menjadi seperti senyawa karbon. Dengan demikian, pada saat arus listrik mengalir dengan volume yang besar, sebagian dari arus tersebut dapat menembus sistem isolasi. Fenomena ini sering disebut dengan arus bocor. Arus bocor inilah yang sering menyebabkan hubung singkat atau korsleting. Tak seperti saluran kabel di udara yang lebih mudah diamati, kabel bawah tanah memiliki tingkat kesulitan maintenance yang lebih tinggi.

Oleh karena itu  bekerja secara aman saat inspeksi ataupun instalasi proteksi katodik sangat diperlukan, karena dilapangan banyak sekali instalasi kabel bawah tanah yang terpasang dan kita tidak pernah tahu sebelum menemukannya. Selalu gunakan alat pelindung diri dan bekali diri dengan pengetahuan teknis mengenai kelistrikan dan safety terhadap listrik bawah tanah.

Referensi :

  1. Hasyim Asy’ari Jatmiko, “Proteksi Kabel Saluran Bawah Tanah 150 KV dari GI Jajar sampai ke GIS Mangkunegaran”, Teknik Elektro UMS, 2003
  2. Laporan Teknik PT Pgas Solution, November 2014
  3. http://yantekbansel.wordpress.com/2012/07/02/keuntungan-dan-kerugian-penggunaan-sutm-dan-sktm/
  4. http://www.news.tridinamika.com/1969/analisa-teknis-ledakan-kabel-bawah-tanah-di-mangga-dua
  5. Laporan Akhir LKFT UGM: Studi Hidro-oseanografi Pembangunan Kabel Laut Jalur Transmisi 150 KV PLTU Kariangau-GI Petung, 2013
  6. Search Engine Google, Keyword “Korban Kabel Listrik Bawah Tanah”