MENGENAL COATING (Bagian 1)

MENGENAL COATING (Bagian 1)

MENGENAL COATING (Bagian 1)

Coating adalah lapisan penutup yang diterapkan pada permukaan sebuah benda dengan tujuan dekoratif maupun untuk melindungi benda tersebut dari kontak langsung dengan lingkungan. Pada sebuah pipa, coating merupakan perlindungan pertama dari korosi. Coating ini diaplikasikan untuk struktur bawah tanah, transisi pipa yang keluar dari tanah menuju permukaan dan untuk struktur pipa diatas tanah.

Berdasarkan lokasi struktur yang dilindungi maka coating terbagi beberapa jenis yaitu coating yang dapat digunakan untuk struktur bawah tanah, daerah transisi, permukaan tanah, atmospheric coating, internal coating dan lining. Untuk coating struktur bawah tanah (underground coating) yang tertanam maupun yang terendam dalam air dimana sangat sulit untuk melakukan maintenance, maka diperlukan perlindungan yang cukup. Penggunaan coating jenis cat yang tipis tidak direkomendasikan, diperlukan coating yang lebih tebal. Efek dari Handling, construction, kontak dengan batu, tekanan dari tanah, ketahanan material dan lain-lain yang dapat merusak coating perlu dipertimbangkan, tidak ada coating yang bisa 100 % melindungi pipa, karena itu untuk perlindungan pipa terhadap korosi  harus ditambah dengan sistem proteksi katodik.

Tujuan dari underground coating adalah melindungi struktur pipa dari kontak langsung dengan elektrolit dalam tanah atau dalam air. Secara umum Karakteristik coating terutama untuk underground adalah sebagai berikut :

  1. Mudah diaplikasikan

Underground coating harus mudah diaplikasikan baik di lapangan maupun dalam pabrik. Dan segera dapat digunakan tanpa membutuhkan waktu lama untuk menempel dengan pipa tanpa merusak coating tersebut.

  1. Merekat Kuat pada Permukaan logam

Underground coating harus mempunyai daya rekat yag sangat baik pada permukaan pipa baja, Penggunaan primer dapat membantu daya rekat coating dengan permukaan logam.

  1. Tahan Terhadap Benturan

Underground coating harus tahan terhadap benturan tanpa menyebabkan coating retak

  1. Fleksibel

Underground coating harus cukup fleksibel atau lentur terhadap  deformasi yang diakibatkan beban mekanis seperti tarikan, regangan, getaran, gesekan dan tahan terhadap perubahan temperature.

  1. Tahan terhadap Tegangan tanah (soil stress)

Tegangan tanah berpengaruh terhadap coating, misalnya adalah kontraksi tanah liat pada lingkungan kering dan cuaca panas. Coating harus mampu menahan tegangan tanah tanpa terjadi kerusakan.

  1. Tahan terhadap panas

Underground coating harus tahan terhadap perubahan iklim dan cuaca, coating tidak boleh meleleh atau terlepas dari pipa dikarenakan panas matahari.

  1. Tahan terhadap air

Underground coating tidak menyerap air dan harus kedap terhadap air sehingga air tidak bisa masuk menyentuh permukaan pipa.

  1. Mempunyai Tahanan Listrik yang tinggi

Underground coating harus bersifat isolasi dan tidak mengandung material yang mempunyai sifat penghantar listrik.

  1. Stabil terhadap pengaruh secara fisik dan kimia

Tidak terjadi efek aging pada coating terhadap penetrasi molekul molekul dari luar sehingga terjadi pelapukan atau pengerasan coating. Coating harus stabil terhadap temperature.

  1. Tahan terhadap bakteri tanah

Coating harus tahan terhadap aktivitas bakteri tanah

  1. Tahan terhadap organism laut

Pada pipa bawah laut maka organism laut seperti kerang, remis, barnacle dan lain-lain dapat merusak coating, karena itu coating bawah laut harus tahan terhadap organism tersebut.

Terdapat berbagai macam coating. Ada line coating yaitu coating yang hampir melapisi seluruh permukaan pipa kecuali di jarak 6 inchi pada kedua ujung pipa dan coating yang disebut dengan girth weld atau repair coating atau field joint coating yaitu jenis coating yang diaplikasikan pada sambungan pengelasan saat menyambung dua batang pipa.

Jenis Line coating adalah sebagai berikut :

  1. Coaltar Enamel
  2. Asphalt enamel
  3. Extruded polyethylene
  4. Fusion Bonded Epoxy
  5. Somastic
  6. Pritec
  7. Liquid Epoxy
  8. Dan Three Layer Polyethylene

Sedangkan jenis repair coating adalah :

  1. Cold apllied Tapes
  2. Wax
  3. Shrink Sleeves
  4. 2 Part liquid epoxy
  5. Mastic, dan lain-lain

Coaltar Enamel

Coal tar enamel adalah jenis coating standard yang sudah sangat lama (lebih dari 75 tahun)  digunakan untuk memproteksi pipa terhadap korosi. Coal tar enamel adalah thermoplastic polymeric coating yang diproduksi dari coal tar pitch, coal dan produk distilasi batubara dan ditambahkan filler inert. Penggunaan coal tar enamel yang dikombinasikan dengan primer, fiberglass, dan outer wrap sangat efektif untuk melindungi pipa dari korosi.

Coal tar adalah cairan berwarna hitam atau coklat dengan viskositas yang tinggi berbau nafta atau aromatic hydrocarbon. Coal tar adalah produk sampingan ketika batubara dikarbonasi untuk membuat coke (kokas) atau ketika proses gasifikasi batubara. Senyawa pembentuk coal tar sangat kompleks, terdiri dari campuran phenol, Hidrokarbon aromatic polisiklik (PAH) dan senyawa Heterosiklik dengan sekitar 200 senyawa campuran didalamnya.

Gambar 1. Coal tar Enamel

Asphalt Enamel

Aspal adalah salah satu material yang paling tua yang digunakan untuk material coating. Sekitar 6000 tahun sebelum masehi bangsa sumeria ditemukan sudah menggunakan aspal sebagai pelapis anti air untuk kapal. Pada tahun 2600 sebelum masehi bangsa mesir juga mengunakannya sebagai bahan pelapis mummy untuk pengawetan dan lapisan tahan air. Selain itu ditemukan pula dalam sejarah aspal digunakan untuk lapisan jalan, bangunan, sistem irigasi dan reservoir.

Asphalt enamel terdiri dari campuran bitumen dan non fibrous mineral filler yang inert dengan warna hitam pekat. Aspal mempunyai sifat mekanis kuat, tahan terhadap cuaca dan bahan kimia. Aspal dibuat dari crude oil yang didistilasi dalam proses refinery. Dengan proses oksidasi dan pencampuran dengan mineral filler maka aspal dapat digunakan menjadi coating.

                                                                                                      Gambar 2. Asphalt Enamel 

Extruded Polyethylene

Adalah jenis coating pabrikan yang terbuat dari lapisan film polyethylene tebal yang diekstrusi kedalam lapisan perekat. Senyawa plastic polyethylene tersebut mempunyai masalah  jika pipa mengalami tegangan yang tinggi. Karena itulah lapisan perekat tersebut berfungsi untuk  mengatasi kemungkinan terjadinya pin holes pada coating yang mungkin timbul. Temperature yang tinggi dan cahaya matahari dapat merusak lapisan polyethylene coating, karena itu ditambahkan pigmenting dengan karbon hitam untuk mengurangi problem tersebut. Secara umum, extruded polyethylene coating dapat digunakan untuk melindungi pipa dengan suhu sekitar 50 o Celcius.

Gambar 3. Mesin Ekstruded

Proses pembuatan extruded coating adalah masuknya resin ekstrusi polyethylene dari slot cetakan (die) pada suhu sekitar 320 oC menuju screw berjalan. Resin yang bergerak kemudian mendingin pada screw dan kembali ke bentuk padatnya begitu seterusnya hingga membentuk lapisan. Extruded polyethylene mempunyai kekuatan mekanikal yang tinggi dibandingkan dengan cold applied polyethylene tape coating.

Gambar 4. Diagram Proses Extruded polytethylene pada sebuah pabrik

Referensi :

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Coal_tar
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Extrusion_coating
  3. Saheb Mohammed Mahdi, “Petroleum underground Pipeline Protective Coating”, Al Mustansiriya University, Irak, 2011
  4. Jeff Didas, “Fundamental Of Pipeline Coatings”, Appalachian Underground Short Course, West Virginia, 2014
MENGENAL INSULATING JOINT

MENGENAL INSULATING JOINT

MENGENAL INSULATING JOINT

Insulating joint adalah sambungan pipa yang bersifat non konduktif berfungsi untuk memutus arus yang mengalir secara linear pada pipa baja.

Menurut NACE RP0169   insulating joint dapat digunakan pada lokasi-lokasi berikut :

  1. Tempat dimana pipa terjadi perubahan kepemilikan seperti meter station dan well head
  2. Pada percabangan pipa
  3. Pada inlet dan outlet Meter dan regulating station
  4. Pada pipa suction dan discharge pada compressor station atau pumping station
  5. Stray current area
  6. Koneksi pipa yang terbuat dari material logam yang berbeda
  7. Sambungan antara pipa yang tercoating dan pipa yang tidak dicoating
  8. Perbatasan antara pipa dinas dan pipa yang masuk ke MR/S pelanggan
  9. Lokasi dimana terdapat electrical grounding, seperti penangkal petir,instrument dll

Insulating Joint pada umumnya mempunyai tipe monolithic, namun berdasarkan standard GS COR 210 Total Fina ELF maka Insulating joint dibagi menjadi dua jenis :

  1. Monolithic atau monobloc Insulating Joint
  2. Yoke Insulating Joint
  1. Monolithic Insulating Joint

Yaitu jenis insulating joint tanpa flens, terfabrikasi dan tidak bisa dibongkar. Antara dua buah pup joint dipisahkan oleh insulating ring yang rigid dan sealing gasket dengan sifat dielektrik dan mekanikal yang baik.

Gambar 1. Monolithic Insulating Joint
Gambar 2. Monolithic Insulating Joint Drawing

2. Yoke Insulating Joint

Yaitu insulating Joint yang dibuat dari dua buah pipa yang digabungkan. Pada tepi bagian belakang salah satu pipa dibuat profil slope. Kedua permukaan pipa tersebut disatukan dan ditutup dengan O-ring serta sebagai isolasi diatur jarak dan penambahan  organic compound. Kedua pipa tersebut disatukan dengan yoke (pengekang)  yang dipasang sekeliling pipa. Yoke dapat dibuat dari dua atau tiga bagian terpisah yang disatukan.

Gambar 3. Yoke Insulating Joint
Gambar 4. Yoke Insulating Joint Drawing

Insulating Joint menurut Standard Shell DEP terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :

Gambar 5. Bagian-bagian Insulating Joint
  • 2 buah spool pipe yang mempunyai grade yang sama dengan jenis pipa yang terpasang
  • Logam forging yang berfungsi untuk menyambungkan kedua buah spool pipe tersebut
  • Insulating dan filler material yang berfungsi untuk electrical isolation antara kedua pipa tersebut.
  • Minimum terdapat 1 set ring seal yang berfungsi sebagai penahan tekanan dari dalam. Dua set ring seal diperlukan untuk tekanan diatas 50 bar atau jika fluida yang dialirkan bersifat toxic.
  • Two set terminal/connection lug yang berfungsi. 1 set untuk dipasang kabel menuju test post berfungsi untuk pengukuran dan 1 set lagi untuk tempat memasang surge diverter

Standard Shell menggunakan O ring sebagai pressure sealing.  Namun menurut standard NACE RP 0286 “Electrical Isolation Of Cathodically Protected Pipelines” pressure sealing tidak harus berbentuk O ring, seperti  gambar berikut :

Gambar 6. Pressure Sealing Menurut NACE

Sebuah insulating joint harus bisa menahan tekanan dari dalam, beban dari luar, sekaligus juga mampu memutus aliran arus listrik. Bagian terpenting dari insulating joint adalah pada sealing system. Saat ini terdapat 3 jenis sealing system yang banyak diterapkan pada monolithic Insulating Joint, yaitu :

  1. O ring Sealing System
Gambar 7. O Ring Sealing System

Sebagai primary sealing  menggunakan 2 atau 4 O-ring yang berfungsi untuk memisahkan antara isolation seal dengan bagian metal.

2. Rectangular Shape Sealing system

Gambar 8. Rectangular Shape Sealing system

Primary sealing menggunakan gasket berbentuk rectangular yang memisahkan antara metal ke metal.

3. U shape Sealing system

Gambar 9. U shape Sealing system

Sealing system yang terbuat dari gasket berbentuk U yang mengelilingi isolation seal juga  memisahkan metal ke metal. Sealing system ini merupakan jenis sealing terbaik dan dirancang khusus untuk Insulating joint jenis Monolithic. Dikenal dengan nama Double Seal Gasket  system (DSGS).

Ketiga system tersebut menunjukkan perbedaan  penting yang harus diketahui oleh para teknisi dilapangan sesuai tabel berikut :

Kelebihan Sealing system :

No

O – Ring

Rectangular Shape

U Shape

1

Murah

Cukup murah

Tidak membutuhkan surface preparation yang sangat halus

2

Tidak membutuhkan peralatan khusus dalam pembuatannya

Mudah dalam perakitan

Bekerja memisahkan antara metal ke metal sekaligus metal ke permukaan isolator

3

Banyak tersedia dipasaran

Tidak membutuhkan surface preparation yang sangat halus

System yang simetris

4

Sistem yang simetris

Bekerja memisahkan antara metal ke metal sekaligus metal ke permukaan isolator

Tetap berfungsi walaupun ada deformasi material pada logam

5

 

Isolator terlindungi oleh sealing system dari air (Waterproof)

Isolator terlindungi oleh sealing system dari air (Waterproof)

6

 

Tidak terjadi ekstrusi resin

Mampu menahan perubahan tekanan internal yang naik secara mendadak.

Kelemahan Sealing system :

No

O – Ring

Rectangular Shape

U Shape

1

Sealing hanya terjadi antara metal ke isolation tidak pernah dari metal ke metal.

Perlu peralatan khusus dalam pembuatannya

Mahal

2

Tidak tahan lama jika system mengalami frekuensi perubahan tekanan yang sering.

Non symmetric sealing system karena itu pressure yang dialami tidak sama di setiap bagian.

Perlu peralatan khusus dalam membuatnya

3

Tidak bisa mengantisipasi adanya deformasi logam

Pada tekanan internal yang tinggi dapat merusak gasket

Perlu peralatan khusus dalam perakitannya

4

Air atau gas dapat masuk /teradsorbsi kedalam isolation

 

 

5

Pada tekanan tinggi Sealing system mengalami ekstrusi

 

 

Pabrikan Insulating joint Nouvagiungas dari Italia merekomendasikan cara penggunaan ketiga system tersebut sebagai berikut :

  1. Sealing system jenis O-ring hanya bisa digunakan untuk pipa dengan tekanan rendah, diameter kecil, dan tanpa adanya beban bending, tensile, torsion ataupun compression.
  2. Sealing system jenis rectangular dapat digunakan untuk pipa dengan tekanan medium atau dibawah 300 bar. Untuk tekanan diatas 300 bar tidak diperbolehkan menggunakan jenis ini.
  3. Tidak ada pembatasan untuk sealing system jenis U-shape.

Beberapa perusahaan besar seperti petronas, Snamprogetti membatasi penggunaan O-ring, bahkan Iranian petroleum Standard NO IPS-M-TP-750-8 menyatakan bahwa tidak lagi menerima Insulating joint dengan sealing system tipe O-ring dikarenakan tipe O-ring masih mempunyai kemungkinan untuk bocor ketiga insulating joint mengalami beban tarik longitudinal.

Untuk mengatasi permasalahan ini, biasanya dalam sebuah insulating joint ditambahkan satu set O-ring sekunder yang berfungsi untuk mencegah kebocoran keluar dari pipa jika O-ring primer telah terjadi deformasi.

Gambar 10. O Ring Sekunder

Bahan Pressure Sealing harus terbuat dari elastomer yaitu polimer yang mempunyai viscosity dan elasticity. terdapat beberapa jenis elastomer diantaranya adalah Fluoropolymer elastomer atau yang terkenal dengan merk dagang viton buatan Du Pont. Selain Viton masih ada beberapa merk dagang lain yaitu, Dyneon by 3M, USA, Dai-El by Daikin, Japan, Tecnoflon by Solvay Specialty Polymers, Italy, Fluoroelastomer by Alpha Associates, Inc., USA.

Selain Fluoropolymer elastomer, masih terdapat beberapa elastomer yang juga umu digunakan pada insulatin joint yaitu, Nitrile Rubber (NBR) dan Ethylene Propylene Diene Rubber (EPDM).

  Referensi :

  1. NACE Standard RP-0286 “Electrical Isolation of Cathodically Protected pipelines, 2002
  2. NACE Standard RP-0169 “ Control Of External Corrosion on Underground or submerged Metallic Piping system”, 2002
  3. ISO 15589-1 “Petroleum and Natural Gas Industries – Cathodic Protection of pipelines- Transportation system”, 2003
  4. Nouvagiungas NGPR 0501, “Monolithic Isolation Joints: The Sealing System”, 2005
  5. http://en.wikipedia.org/wiki/Viton
  6. http://en.wikipedia.org/wiki/Elastomer
  7. Total Fina Elf Standard GS COR 210, “Insulating Joint”, 2001
  8. Petronas Gas Berhad Standard No PGB/OGP–SP–0038–20B2-18, “Specification For Monolithic Insulating Joint”, 2000
  9. Iranian Petroleum Standard No. IPS-M-TP-750/8, “Insulating Joint”, 1997
  10. Namdaran Petrogas Industries, “insulating Joint Brochure”
  11. https://www.indonetwork.co.id/product/insulating-joint-bipi-dari-2-inch-sampai-dengan-24-inch-4670323
  12. SHELL Group Standard No DEP 30.10.7310-Gen, “Cathodic Protection Manual”, 1983
HALF CELL (ELEKTRODA STANDARD ) SISTEM PROTEKSI KATODIK (CATHODIC PROTECTION)

HALF CELL (ELEKTRODA STANDARD ) SISTEM PROTEKSI KATODIK (CATHODIC PROTECTION)

HALF CELL (ELEKTRODA STANDARD ) SISTEM PROTEKSI KATODIK (CATHODIC PROTECTION)

Pengukuran potensial suatu logam pada hakikatnya adalah mengukur nilai potensial reduksi atau potensial oksidasi logam tersebut.  Potensial reduksi adalah nilai potensial listrik yang didapatkan ketika ion logam menangkap electron dan menjadi logamnya. Sedangkan potensial oksidasi adalah potensial listrik yang timbul ketika logam melepas electron menjadi ion logamnya. Reaksi reduksi tidak bisa berjalan sendiri, selalu  dibarengi dengan reaksi oksidasi. Reaksi Oksidasi terjadi di anoda dan reaksi reduksi di katoda.

Pada Anoda :

Mg      –>       Mg2+   +          2e  (Oksidasi)

Pada Katoda :

Fe2+    +          2e       –>       Fe   (Reduksi)

2 H+      +          2e       –>       H2 (gas)

2 H+    +          ½ O2   +          2e       –>  H2O

H2O    +          ½ O2    +          2e       –>  2 OH

Karena itulah pengukuran potensial reduksi atau potensial oksidasi adalah pengukuran relative dengan menggunakan suatu standard yaitu standard hydrogen. Reaksi reduksi pembentukan hydrogen sebagai standard ditentukan mempunyai nilai potensial adalah 0.

2H+ + 2e –> H2  E = 0.00 volt

 

 Standard hidrogen ini hanya bisa digunakan di laboratorium, sehingga tidak akan bisa diaplikan dilapangan, karena itu dibuatlah Half cell (reference standard) yang dapat digunakan dilapangan.

Gambar 1. Hydrogen Reference Cell

Terdapat beberapa half cell yang digunakan dalam pengukuran proteksi katodik, dan semua Half Cell distandardkan dengan Hydrogen.

Copper- Copper Sulphate Electrode (CSE)

CSE merupakan elektroda standard (reference Electrode) yang paling popular digunakan . CSE tidak cocok digunakan pada elektrolit yang mengandung chlorine, karena ion-ion chlorine dapat masuk ke dalam larutan CuSO4 jenuh pada half cell dan merusak larutan tersebut. Larutan Cuso4 jenuh pada half cell berfungsi untuk mencegah batang tembaga terkorosi dan membuat half cell menjadi stabil. Bagian-bagian dalam sebuah CSE adalah :

Gambar 2. Copper – Copper Sulphate Reference Cell

Silver - Silver Chloride Electrode (SCE)

Silver –silver chloride (Ag – AgCl) digunakan untuk melakukan pengukuran proteksi katodik dilingkungan air laut dan pada struktur pondasi beton. Terdapat dua tipe silver – silver chloride electrode, yang pertama adalah silver electrode yang langsung kontak dengan air laut. Dan yang kedua adalah silver electrode dalam larutan Potasium chloride (KCl) pada sebuah  wadah berpori mirip seperti Copper-Copper Sulphate electrode.

Gambar 3. Silver-Silver Chloride Reference Cell dalam Larutan KCl
Gambar 4. Silver-Silver Chloride Reference Cell

Hg- HgCl2 / Calomel Reference Electrode

Calomel reference electrode terbuat dari mercury – Mercurious Chloride dalam larutan potassium Chloride (KCl) jenuh. Biasanya digunakan untuk percobaan di laboratorium dan sebagai kalibrator  Half Cell CSE di laboratorium. Calomel tidak digunakan di lapangan dikarenakan kandungan mercury yang bisa mencemari lingkungan.

Gambar 5. Calomel Reference Cell

Zinc Reference Electrode

Zinc digunakan sebagai reference electrode untuk permanen reference underground (ditanam) dan pengukuran daerah laut. Sebagai permanen reference zinc dibungkus dengan backfill yang sama dengan anoda korban, sedangkan untuk air laut zinc digunakan secara bare. Zinc merupakan pseudo reference atau nilai potensialnya bisa berubah-ubah tergantung dari kondisi lingkungan, karena itu zinc cocok digunakan untuk riset. Sebagai reference cell, zinc dibuat dari logam murni dengan kandungan hingga 99.9 %. Kelebihan dari zinc ini adalah mempunyai umur pakai yang lebih lama dibandingkan permanen reference cell lainnya.

Gambar 6. Zinc Underground Reference Cell
Gambar 7. Zinc Sea Water Reference Cell

Terdapat dua jenis elektroda standard yaitu portable dan permanent. Portable mempunyai kelebihan dapat digunakan dilapangan, dapat dipindah-pindah dan bisa dimaintenance (dibersihkan dan di isi ulang larutannya). Permanen electrode digunakan dengan cara di install dekat dengan struktur logam yang akan diukur. Setelah dinstall permanen electrode tidak bisa dimaintenance,  oleh karena itu Permanen electrode mempunyai umur pemakaian dan harus selalu dikalibrasi dengan portable reference untuk tetap mendapatkan hasil yang akurat.

Penggunaan reference cell yang mana saja dapat dengan mudah dikonversikan dengan reference cell yang kita inginkan dengan perbandingan sebagai berikut:

Gambar 8. Perbandingan skala Reference Cell

Untuk memudahkan dalam melakukan konversi maka dibuat grafik sebagai berikut :

Gambar 9. Grafik skala Reference Cell

Sebagai contoh sebuah logam yang diukur dengan menggunakan reference cell copper-copper sulphate (CSE) mempunyai nilai -810 mV, maka berapa nilai potensial logam tersebut jika diukur dengan reference cell lainnya?

Untuk menjawab hal tersebut maka kita harus mengukur perbedaan nilai skala antara reference cell lain dengan Reference Cell CSE. Perbedaannya adalah sebagai berikut :

Cu/CuS04 dibanding Ag/AgCl = 0,316 – 0,256 = 60 mV

Cu/CuSo4 dibanding Hg/Hg2Cl2 = 0,316 – 0,241 = 75 mV

Cu/CuSo4 dibanding H2 = 0,316 – 0,00 = 316 mV

Cu/CuSo4 dibanding Zn/Zn2+ = 0,316 – (-800) = 1116 mV

CSE merupakan reference cell yang paling banyak digunakan untuk pengukuran pada lingkungan tanah, oleh karena itu jika kita ingin membandingkan reference cell lain dengan CSE maka untuk memudahkan CSE akan menjadi 0,00 sehingga grafik menjadi :

Gambar 10. Grafik skala Reference Cell terhadap Cu/CuSO4

Maka nilai -810 mV logam yang akan diukur dengan CSE akan mempunyai nilai (-810 – (-60) = -750 mV jika diukur dengan Ag/AgCl2

Jika diukur dengan Hg/HgCl2 Akan mempunyai nilai -810 – (-75) = -735 mV

Jika diukur dengan Zn akan mempunyai nilai -810 –(-1116) = -306 mV

Dengan adanya grafik yang sudah kita buat seperti diatas, akan memudahkan kita menggunakan logam apapun sebagai reference selama dikalibrasi dengan CSE. Namun perlu dicatat bahwa penggunaan logam sebagai reference cell selain reference cell diatas adala sementara. Sebagai contoh jika seorang teknisi kelupaan membawa CSE dan dia sudah dilapangan tidak mungkin balik ke kantor mengambil CSE. Maka dia bisa memakai sebuah paku .

Gambar 11. Paku sebagai reference cell

Pengukuran potensial proteksi dengan menggunakan paku sebagai reference cell didapatkan nilai sebesar -600 mV. Maka teknisi tersebut kemudian kembali ke kantor dan mengukur nilai potensial paku tersebut dengan CSE reference cell sebenarnya didapatkan nilai -350 mV, maka nilai potensial proteksi dari pipa yang sesungguhnya jika diukur dengan CSE adalah (– 600 mV) + (-350 mV) = – 950 mV.

Referensi :

  1. NACE International, “CP-2 Cathodic Protection Technician Manual”, Houston, 2009
  2. Appalachian Underground Corrosion Short Course, “Advanced Course Modul”, West Virginia, 2013
  3. Robert A Francis, “Corrosion Control”, Australia, 2005
  4. Wikipedia