PENGUJIAN INSULATING JOINT (Bagian 2)

PENGUJIAN INSULATING JOINT (Bagian 2)

PENGUJIAN INSULATING JOINT (Bagian 2)

Bagian 2 ini mencoba untuk menjelaskan 8 jenis pengetesan kualitas Insulating Joint lanjutan bagian 1 sebagai berikut :

  1. Leakage Current Test
  2. Dielectric Strenght Test
  3. Painting/Coating DFT Check
  4. Visual dan dimensional Check
  5. Leak Test (with Helium)
  6. Manufacture Document
  7. Impact Test
  8. Manufacture Certificate

1. Leakage Current Test

Leakage Current test adalah salah satu tes yang penting pada sebuah peralatan elektrik terutama pada peralatan-peralatan medis perlu dilakukan pengujian kebocoran arus secara berkala untuk keselamatan pasien. Test kebocoran arus ini berfungsi untuk memberikan jaminan keamanan terhadap manusia dari adanya resiko electrical shock/kesetrum.

Jika seseorang menyentuh sebuah peralatan yang menghantarkan arus maka arus listrik akan mengalir didalam tubuh orang tersebut. Jika arus yang mengalir tidak lebih dari 0.5 mA maka orang tersebut tidak menyadari adanya alran listrik dalam tubuhnya, namun jika arus yang mengalir lebih dari 0.5 mA maka orang tersebut dapat merasakan kejutan-kejutan kecil atau mengalami electrical shock /kesetrum. NACE RP 0177 memberikan rincian sebagai berikut :

Gambar 1. Tabel Pengaruh arus AC terhadap manusia

Perusahaan Gas Negara  melakukan pengujian kebocoran arus dengan mengalirkan tegangan 5000 V AC 50 hz selama satu menit dan maksimum kebocoran arus yang diizinkan adalah sebesar 5 mA.

Petronas Standard mensyaratkan pegujian dengan mengalirkan tegangan 2500 V AC (50-60 Hz) selama satu menit tanpa adanya kebocoran arus listrik.

2. Dielectric Strenght Test

Dielectric Strenght Test adalah sebuah pengujian untuk mengetahui kekuatan suatu material untuk menjadi sebuah isolator. Kekuatan Dielectric didefinisikan sebagai besarnya voltase maksimum yang dibutuhkan untuk menembus sebuah isolator dan didefinisikan dalam satuan Volt per unit ketebalan. Semakin besar nilai dielectricalnya maka semakin bagus sebuah isolator. Sebuah Insulating Joint harus mempunyai ketahanan dielectric minimal 2,5 KV/mm sesuai dengan ASTM D149.

Sesuai dengan ASTM D149 maka terdapat 3 prosedure pengetesan kekuatan dielectric yaitu :

  1. Short Time Method
  2. Slow rate of rise method
  3. Step by step method

Ketiga prosedur ini mempunyai tahap persiapan yang sama, salah satunya adalah sampel diletakkan diantara dua electrode dengan media udara atau oil.

Short time method adalah metode test yang paling umum dimana sampel mulai dialiri tegangan dari 0 dan naik secara  bertahap hingga ketahanan dielectricnya rusak yang ditandai dengan sampel mulai terbakar atau mulai terdekomposisi.

Slow rate of rise method dimulai dari 50  % breakdown voltage yang didapat dari short time test, dan kemudian naik perlahan secara bertahap.

Step by step method dimulai dari 50 % breakdown vltage yang didapat dari short time test, kemudian naik secara bertahap dengan jeda waktu tertentu hingga rusak. Test biasanya dilakukan dalam minyak untuk menghindari loncatan busur listrik dari elektroda ke grounding.

3. Painting/Coating DFT Check

Painting/Coating Dry Film Thickness (DFT) check adalah pengukuran ketebalan cat/coating setelah kering dalam satuan mils (0.001 inch) atau micrometer. Untuk pelaksanaan DFT mengacu pada The Society for Protective Coatings Paint Application Standard No. 2 (SSPC PA-2)

SSPC PA2 merekomendasikan 2 jenis gage untuk melakukan DFT yaitu :

1.      1. magnetic pull off gages 

 

Gambar 1. Magnetic Pull

Produk ini sudah digunakan sejak tahun 1950 dengan cara kerja magnet permanent dikontakkan dengan permukaan yang akan diukur. Gaya yang timbul untuk menarik magnet menempel ke permukaan logam diukur dan dikonversi menjadi ketebalan coating. Saat ini penggunaan gage tersebut sudah mulai menurun namun tetap banyak beredar dipasaran.

2. Electronic Gages1

Gambar 2. Electronic Gages

Tipe ini menggunakan sinyal electronic yang diubah menjadi nilai ketebalan coating dalam bentuk display monitor. Tipe ini banyak disukai orang karena lebih mudah, cepat dan akurat.

4. Visual dan Dimensional Check

Pengecekan secara langsung dimana bentuk insulating joint harus sesuai dengan dokumen teknis yang disertakan dan memenuhi keinginan pembeli. Secara detail mengenai dimensi dan visual dari insulating joint. Setidaknya harus memenuhi syarat sebagai berikut :

  1. Terbuat dari pipa seamless
  2. Welded End
  3. Diameter tengah harus sama dengan diameter pinggir
  4. Panjang insulating joint minimum 1,5 x diameter pipa
  5. Mempunyai Grounding lug
  6. Insulating surface ring terbuat dari laminated epoxy resin terpasang rapat
  7. Sealing gasket terbuat dari fluorinated elastomer dan terpasang rapat
  8. Tebal minimum material insulating 20 mm
  9. Tampilan dan bentuk insulating joint halus dan rapi.

Persyaratan 6,7 dan 8 ini diketahui dengan jalan membelah insulating joint menjadi dua hingga diketahui bentuk material insulating, gasket dan system penyambungan antara kedua pup piece.

5.Leak Test (With Helium)

Metode pengetesan menggunakan gas helium untuk mengidentifikasi lokasi kebocoran dan jumlah gas yang keluar. Pengetesan menggunakan helium ini jauh lebih akurat dibandingkan dengan hydrostatic test namun harus  mengunakan alat khusus dalam sebuah bejana/chamber dan menggunakan helium leak detector. Pengetesan ini harus benar-benar dilakukan dalam kondisi benar-benar kering, bebas air, minyak maupun komponen pengotor lain, karena dapat mempengaruhi pengetesan. Perusahaan GAs Negara mensyaratkan Tes kebocoran dengan menggunakan gas helium pada tekanan 5 barg. dan dilakukan setelah uji hidrostatik.

Gambar 3. Helium Leak Test

6. Manufacture Document

Perusahaan pembuat insulating joint harus menyediakan dokumen-dokumen setidaknya sebagai berikut :

  1. Sertifikat insulating Joint
  2. Gambar detail Insulating Joint
  3. Sertifikat material
  4. Sertifikat pengujian
  5. Sertifikat jaminan keaslian
  6. Surat Garansi
  7. Informasi mengenai insulating joint yang tertempel dan tidak bisa hilang dengan informasi sebagai berikut :
  8. nama atau nomor tag dari insulating joint,
  9. Manufaktur,
  10. kecocokan (inch) nominal diameter pipeline yang akan dikoneksikan,
  11. tebal ujung dari insulating joint (mm),
  12. material,
  13. tekanan desain,
  14. ANSI class rating,
  15. tahun pembuatan,
  16. nomor order,
  17. berat, dan
  18. informasi lain apabila dibutuhkan.

7. Impact Test

Insulating Joint harus dilakukan pengetesan terhadap beban luar yang kemungkinan akan terjadi seperti pengujian bending, tarik, tekan, geser, punter serta beban cyclic yang mungkin terjadi.

8. Manufacture Certificate

Perusahaan Gas Negara menyatakan bahwa manufaktur harus memiliki sertifikat ISO yangsesuai dengan ISO 9001 edisi terkini dan manajemen kualitas terdokumentasi yangmendefinisikan spesifikasi produk, prosesmanufaktur dan prosedur jaminan kualitasuntuk memastikan kesesuaiannya dengan persyaratan perusahaan dan peraturan yang berlaku.

 

Referensi :

  1. Final Report “Failure Analysis 4 Insulating Joint ”, PT Rekayasa Solverindo, 2014
  2. NACE Standard RP-0286 “Electrical Isolation of Cathodically Protected pipelines, 2002
  3. ISO 15589-1 “Petroleum and Natural Gas Industries – Cathodic Protection of pipelines- Transportation system”, 2003
  4. ASME B.3.1.1-2007 “Power Piping” ,2007
  5. Spesifikasi Teknis Material Insulating Joint PT PGN (Persero) Tbk.
  6. Total Fina ELF GSCOR 210 “Corrosion”, 2001
  7. Petronas Gas Berhad Standard No PGB/OGP–SP–0038–20B2-18, “Specification For Monolithic Insulating Joint”, 2000
  8. http://en.wikipedia.org/wiki/Hydrostatic_test
  9. http://www.wermac.org/others/ndt_pressure_testing.html
  10. http://www.intertek.com/polymers/testlopedia/dielectric-strength-astm-d149/
  11. http://wiryanto.wordpress.com/2010/02/25/semuanya-las-kapan-pakai-bautnya/
  12. http://expresiku2812.blogspot.com/2014/08/pengujian-non-destructive-test-ndt.html
  13. http://www.openelectrical.org/wiki/index.php?title=Insulation_Resistance_Test

http://www.ktauniversity.com/index.php/measuring-dry-film-coating-thickness-according-to-sspc-pa-2/

PENGUJIAN INSULATING JOINT (Bagian 1)

PENGUJIAN INSULATING JOINT (Bagian 1)

PENGUJIAN INSULATING JOINT (Bagian 1)

Setidaknya terdapat 12 jenis pengujian untuk menentukan kualitas Insulating Joint sebagai berikut :

  1. Radiography for buttweld
  2. UT for Other than Buttweld
  3. Hydrostatic Test including pipe pup piece
  4. Electrical Resistance Test
  5. Leakage Current Test
  6. Dielectric Strenght Test
  7. Painting/Coating DFT Check
  8. Visual dan dimensional Check
  9. Leak Test (with Helium)
  10. Manufacture Document
  11. Impact Test
  12. Manufacture Certificate

Bagian 1 ini mencoba untuk menjelaskan Jenis pengetesan nomor 1 sampai dengan nomor 4.

1. Radiography for buttweld

Semua buttweld dan repair weld harus diinspeksi dengan pemeriksaan radiografi 100 %. Buttweld atau las tumpul adalah tipe pengelasan untuk penyambungan yang sangat kuat, dapat menghasilkan kekuatan sambung yang sama dengan penampang aslinya. Jika sambungan butweld kita lakukan uji tarik maka pada bagian yang rusak bukan pada bagian pengelasan namun pada bagian lain. Kelemahan pengelasan ini adalah kita tidak bisa menentukan sempurnanya pengelasan hanya dari melihat luarnya saja. Keseluruhan penampang telah terlas dengan baik atau hanya permukaannya saja yang tebal. Untuk memastikan homogenitas pengelasan hanya dapat dilakukan dengan Radiography (X-Ray)

Gambar 1, Buttweld Insulating Joint
Gambar 2. Buttweld

2. Ultrasonic Test (UT) for Other than Buttweld

Semua hasil pengelasan harus dilakukan 100 % uji menggunakan ultrasonic untuk mengetahui cacat laminasi untuk jarak 50 mm dari ujung lasan. Cacat laminasi tidak akan disetujui.Cacat laminasi adalah mengelupasnya logam akibat peleburan logam yang tidak sempurna. Cacat laminasi tidak bisa ditemukan lewat radiography test.Pengujian ultrasonic (UT test) adalah salah satu jenis pengujian non destructive test dengan cara memberikan gelombang frekuensi tinggi ke dalam material benda uji untuk mengukur sifat geometris dan fisik dari bahan. Biasanya frekuensi yang dipakai antara 1 MHz sampai 10 MHz.

Laju ultrasound di bahan yang berbeda akan menghasilkan kecepatannya yang berbeda. Gelombang ultrasonic akan terus merambat melalui material dengan kecepatan tertentu dan tidak kembali kecuali hits reflector. Reflector memperkirakan adanya retak/cacat antara dua material yang berbeda.Gelombang suara frekuensi tinggi yang diberikan ke material kemudian dipantulkan kembali dari permukaan yang cacat, energy suara yang dipantulkan ditampilkan terhadap waktu,, dan divisualisasikan terhadap specimen. Hasil dari gelombang suara tersebut ditampilkan pada layar monitor dan terdeteksi terdapat cacat atau bebas cacat pada material tersebut.

Gambar 3. Cacat Laminasi
Gambar 4. Jenis-Jenis Cacat Laminasi

3. Hydrostatic Test including pipe pup piece

Hydrostatic test adalah cara yang umum untuk menguji kekuatan dan kebocoran sebuah pipa atau bejana dengan cara memenuhi sebuah bejana dengan air kemudian ditekan dengan tekanan tertentu. Air biasa digunakan karena murah, mudah didapat dan tidak merusak system yang akan dites. Selain itu air adalah fluida incompressible, jadi relative membutuhkan sedikit kerja untuk mendapatkan tekanan yang diinginkan. Untuk melakukan kompresi dengan tekanan yang sama akan membutuhkan lebih sedikit beban kerja dibandingkan jika fluida yang digunakan adalah udara/ pneumatic test. Semakin banyak beban kerja yang digunakan akan tersimpan dalam fluida sebagai energy potensial yang tiba-tiba akan terlepas jika pengetesan mengalami kegagalan

Perhitungan energy potensial untuk udara yang ditekan hingga tekanan 1000 psig dibandingkan dengan air dengan volume tertentu yang ditekan hingga 1000 psig menunjukkan perbandingan lebih dari 2500 : 1. Karena itu potensi kerusakan dan korban jiwa saat melakukan pengetesan menggunakan udara sangat besar.

Terdapat perbedaan metode pengetesan hydrostatic untuk sebuah insulating joint perusahaan-perusahaan besar di dunia sebagai berikut :

Perusahaan Gas Negara mensyaratkan bahwa  setiap insulating joint harus dilakukan uji hidrostatis dengan tekanan sebesar 1.5 kali tekanan desain menggunakan air bersih dengan durasi tes tidak kurang dari 2 jam dihitung setelah tekanan stabil. Kemudian tekanan diturunkan hingga ke titik semula, jika terjadi kebocoran atau kerusakan maka barang tidak boleh diterima.

ASME B.3.1.1. “Power Pipelines” mensyaratkan bahwa pengetesan hydrostatic dilakukan tidak boleh kurang dari 1.5 kali tekanan desain. Tekanan dijaga tetap selama minimal 10 menit, kemudian tekanan diturunkan ke tekanan desain dan dibiarkan beberapa lama untuk mengetahui adanya kebocoran atau tidak.

Total Fina ELF standard GSCOR 210 mensyaratkan pengetesan menggunakan air dengan tekanan sama dengan tekanan operasi dengan durasi waktu 20 menit.

Petronas mempunyai standard pengetesan terhadap insulating joint mengacu pada ASME Boiler and Pressure Vessel Code Section VIII (Clause UG-99) dimana tekanan minimum hydrostatic test adalah 90 % dari SMYS dan maksimum adalah 110 % dari SMYS dengan durasi waktu minimal 4 jam.

4. Electrical Resistance Test

Electrical resistance test atau insulating electrical test biasa dikenal dengan Megger Test adalah pengujian menggunakan voltase DC  250 V, 500 V dan 1000 V untuk peralatan dengan voltase rendah dan voltase 600 V, 2500 V, dan 5000 V untuk peralatan dengan voltase tinggi dalam satuan Kilo Ohm, Mega Ohm atau Giga Ohm semakin tinggi nilai tahanannya maka semakin bagus kondisi isolasi. Secara ideal isolasi harus mempunyai tahanan tak terhingga, namun tidak ada yang sempurna karena itu pengukuran kebocoran arus perlu dihitung dengan Leakage current test.

Karena Megger Test ini adalah portable maka pengetesan dapat dilakukan dimana saja, terutama di lapangan sebagai pemeriksaan terakhir sebelum dipasang.

Keuntungan dari pengukuran tahanan menggunakan arus DC adalah tidak merusak material isolasi baik itu selama pengetesan atau setelah pengetesan selesai. Material isolasi sedikitpun tidak akan mengalami perubahan komposisi.

Megger adalah sebuah perusahaan yang berpengalaman selama lebih dari 100 tahun membuat alat insulating tester ini. Belakangan Fluke sebuah perusahaan pembuat alat pengukur membuat juga insulating tester.

Gambar 5. Fluke Insulating Tester

Perusahaan Gas Negara  menyatakan bahwa uji ketahanan elektrik harus dilakukan sebelum dan sesudah  uji hydrostatic.Pengujian terakhir dilakukan dengan mengukur tahanan elektrik diudara dengan menggunakan voltase sebesar 1000 V DC dan didapatkan ketahanan elektrik diatas 60 Mega Ohm.

ISO 15589-1 2003 menyatakan bahwa ketahanan elektrik sebuah insulating joint harus diatas 10 Mega Ohm dengan pengujian voltase sebesar 1000 V DC di udara terbuka.

Petronas Standard mensyaratkan ketahanan insulating Joint diatas 5 Mega Ohm dengan pengujian voltase 1000 V DC diudara terbuka.

Gambar 6. Megger Test

Referensi :

  1. Final Report “Failure Analysis 4 Insulating Joint ”, PT Rekayasa Solverindo, 2014
  2. NACE Standard RP-0286 “Electrical Isolation of Cathodically Protected pipelines, 2002
  3. ISO 15589-1 “Petroleum and Natural Gas Industries – Cathodic Protection of pipelines- Transportation system”, 2003
  4. ASME B.3.1.1-2007 “Power Piping” ,2007
  5. Spesifikasi Teknis Material Insulating Joint PT PGN (Persero) Tbk.
  6. Total Fina ELF GSCOR 210 “Corrosion”, 2001
  7. Petronas Gas Berhad Standard No PGB/OGP–SP–0038–20B2-18, “Specification For Monolithic Insulating Joint”, 2000
  8. http://en.wikipedia.org/wiki/Hydrostatic_test
  9. http://www.wermac.org/others/ndt_pressure_testing.html
  10. http://www.intertek.com/polymers/testlopedia/dielectric-strength-astm-d149/
  11. http://wiryanto.wordpress.com/2010/02/25/semuanya-las-kapan-pakai-bautnya/
  12. http://expresiku2812.blogspot.com/2014/08/pengujian-non-destructive-test-ndt.html
  13. http://www.openelectrical.org/wiki/index.php?title=Insulation_Resistance_Test
  14. http://www.ktauniversity.com/index.php/measuring-dry-film-coating-thickness-according-to-sspc-pa-2/
COMMISIONING SURVEY SISTEM PROTEKSI KATODIK

COMMISIONING SURVEY SISTEM PROTEKSI KATODIK

COMMISIONING SURVEY SISTEM PROTEKSI KATODIK

Setelah pemasangan sistem proteksi katodik pada sebuah pipa baru, maka dilaksanakan commissioning survey untuk mengetahui kondisi sistem proteksi katodik dan kemudian dilakukan serah terima ke bagian operasi dan pemeliharaan untuk digunakan serta dipelihara.

Peralatan yang digunakan untuk melakukan commissioning survey adalah :

  • Multimeter yang bisa mengukur hingga 40 V DC atau lebih, AC vot meter dan ampere meter
  • Cooper copper sulphater reference electrode
  • Isolation Checker
  • Soil resistivity meter
  • Current interrupter
  • DC ammeter sized untuk mengukur arus
  • Portable controlled DC power supply
  • Pipe Locator
  • Test wire
  • Hand Tools seperti tang, obeng, palu dll

Saat melakukan commissioning maka diharuskan memperhatikan tindakan-tindakan berikut ini :

  • Pastikan seluruh AC power supply tidak tersambung
  • Selalu mengukur voltase antara casing Transformer Rectifier (TR) terhadap tanah sebelum menyentuh casing dan saat TR dihidupkan.
  • Waspada saat membuka casing untuk menghindari adanya bahaya serangga, tikus ataupun ular didalam TR.
  • Cek TR apakah ada suara-suara yang tidak normal, temperature atau bau, jika ada segera matikan TR dan catat.
  • Matikan AC power supply saat memasang current interrupter dan saat menaikkan setting arus.
  • Pastikan semua bagian electrical yang terbuka aman dalam sebuah casing yang terkunci saat meninggalkan TR
  • Lakukan pengukuran AC voltage ke tanah pada structure sebelum melakukan pengukuran proteksi katodik. Jika AC voltage terhadap tanah sama atau lebih besar dari 15 volt AC maka struktur berbahaya untuk diukur dan harus dimitagasi untuk mengurangi AC voltage yang ada.
  • Ketika melakukan commissioning survey dibawah jalur listrik tegangan tinggi (SUTET) maka lakukan pengukuran AC Voltage terhadap tanah secara teratur pada jarak tertentu sepanjang jalur SUTET.
  • Jangan melakukan pekerjaan pada jaringan pipa saat terjadi petir di area
  • Saat melakukan pekerjaan dekat dengan pagar, pastikan pagar tersebut tidak teraliri listrik (biasanya pagar peternakan dialiri listrik)

Informasi yang dibutuhkan sebelum melakukan commissioning survey adalah :

  • Design Information
  • Gambar struktur detail
  • Gambar Instalasi protekssi katodik detail
  • Gambar test station dan lokasi pemasangannya
  • Gambar Bonding dan lokasi pemasangannya
  • Lokasi yang diduga mengandung AC voltage berbahaya
  • Lokasi yang diduga terjadi DC interference pada desain
  • Isolation information
  • Road dan Railroad casing data
  • Pipeline dan Coating Information

Pengukuran pada DC power Supply (Tranformer Rectifier) mengikuti prosedur sebagai berikut :

  • Catat Informasi yang terdapat pada nameplate di TR
  • Lakukan pengukuran pada AC supply dan cek kesesuaiannya dengan AC voltage rating pada TR. JIka TR mempunyai Dual AC voltage input, maka pastikan bahwa setting AC input sesuai dengan AC Voltage Supply. Jangan nyalakan TR sampai AC supply sesuai dengan rating TR.
  • Lakukan pengukuran Tap-to-tap Ac voltage antara Transformer secondary tap. Nilai Fine Tap-to-tap AC voltage harus sama dengan setting coarse tap.
  • Lakukan pengukuran DC voltage antara Struktur dan Anode. Pengukuran ini berfungsi untuk mengukur adanya back voltage (back EMF) dari perbedaan potensial antara struktur metal dan groundbed. Pengukuran dilakukan saat TR mati.
  • Untuk mengukur Tahanan sirkuit eksternal, setting Secondary AC voltage dengan posisi 2-4 Vac. Ukur nilai DC voltage dan DC ampere. Hitung tahanan sirkuit eksternal dengan menggunakan rumus berikut :

Ra = Resistance of anode circuit

Edc1 = Test DC Voltage Output (volt)

Back Voltage = DC voltage antara structure dan groundbed sebelum TR dihidupkan (volt)

Idc1 = Test DC current output (amper)

  • Hitung nilai kebutuhan DC voltage sesuai desain dengan menggunakan persamaan.

Edc = DC voltage output yang dibutuhkan (volt)

Idc = Design DC current Output (amper)

Ra = Resistance of Anode circuit (ohm)

  • Setting tap kira-kira 10 sampai dengan 15 % lebih dari Edc value. Secondary AC voltage antara batang coarse dan fine tap mempunyai nilai normal kira-kira 15% lebih besar dari DC voltage output.Namun hal ini masih tergantung juga dari rating operasi TR.
  • Hidupkan TR dan ukur nilai DC voltage dan Current Output. Setting tap sesuai dengan kebutuhan arus proteksi katodik.
  • Ukur DC voltage dan current output dengan portable meter dan bandingkan dengan nilai yang tertera pada panel meter
  • Catat data pada nameplate, tap setting, voltage dan current output dari TR yang sudah dinyalakan tersebut. Catat pula hasil yang didapat saat pengetesan.
  • Untuk sistem sacrificial anode, catat nilai shunt, pembacaan milivolt yang mengalir pada shunt, dan current output.
  • current interrupter dapat diinstall pada AC secondary tap atau pada DC output.
  • Untuk lebih dari satu sumber power supply, gunakan interrupter yang synchronized, diutamakan menggunakan Globally Positioning System time synchronized Interupter
  • Gunakan setting siklus On lebih lama dan Off lebih singkat untuk meminimalkan kehilangan polarisasi sejak waktu interruption dan pencatatan waktu siklus.
  • Jika terdapat fasilitas ssetting waktu mati secara otomatis, maka atur interrupter untuk mati setelah waktu survey habis pada hari itu.

Pengukuran structure to electrolit (proteksi katodik mengacu) pada prosedur sebagai berikut  :

  • Lakukan pengukuran On dan Off Potential dengan DC power supply terpasang interrupter untuk memastikan nilai proteksi sesuai kriteria
  • Gunakan High Input Impedance Voltmeter (minimum 10 Mega ohm) dan copper copper sulphate reference (CSE) untuk pengukuran di tanah dan air tawar dan gunakan Silver silver chloride reference (SCE) untuk air asin.
  • Kalibrasi CSE dengan cara membandingkan dengan CSE yang baru.
  • Lakukan pencatatan nilai Instant Off potential dengan jarak 0.6 dan 1 detik setelah interupsi dengan menggunakan peralatan yang dapat membaca data secara cepat.

Pengukuran potential depolarisasi dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :

  • Mengukur nilai On dan Off potential pada titik yang telah ditentukan dan catat hasil pengukuran
  • Matikan semua sumber arus, kemudian catat penurunan potential pada titik titik yang telah ditentukan hingga nilai potential cenderung stabil. Biasanya membutuhkan waktu hingga berhari – hari.
  • HItung nilai depolarisasi potential pada titik yang sama dengan pengukuran on dan off potential saat nilai potensial cenderung stabil.

Hitung nilai depolarisasi pada tiap titik dengan menggunakan persamaan:

Dimana :

∆Vp = depolarization ( volt)

Eoff = Instan Off Structure to electrolyte potential (volt)

E depol = Depolarisasi structure to electrolyte potential (volt)

 

Referensi :

Brian Holtsbaum, “Cathodic Protection Survey Procedures”, NACE International, Houston, 2009