PENGUJIAN INSULATING JOINT (Bagian 2)

Bagian 2 ini mencoba untuk menjelaskan 8 jenis pengetesan kualitas Insulating Joint lanjutan bagian 1 sebagai berikut :

  1. Leakage Current Test
  2. Dielectric Strenght Test
  3. Painting/Coating DFT Check
  4. Visual dan dimensional Check
  5. Leak Test (with Helium)
  6. Manufacture Document
  7. Impact Test
  8. Manufacture Certificate

1. Leakage Current Test

Leakage Current test adalah salah satu tes yang penting pada sebuah peralatan elektrik terutama pada peralatan-peralatan medis perlu dilakukan pengujian kebocoran arus secara berkala untuk keselamatan pasien. Test kebocoran arus ini berfungsi untuk memberikan jaminan keamanan terhadap manusia dari adanya resiko electrical shock/kesetrum.

Jika seseorang menyentuh sebuah peralatan yang menghantarkan arus maka arus listrik akan mengalir didalam tubuh orang tersebut. Jika arus yang mengalir tidak lebih dari 0.5 mA maka orang tersebut tidak menyadari adanya alran listrik dalam tubuhnya, namun jika arus yang mengalir lebih dari 0.5 mA maka orang tersebut dapat merasakan kejutan-kejutan kecil atau mengalami electrical shock /kesetrum. NACE RP 0177 memberikan rincian sebagai berikut :

Gambar 1. Tabel Pengaruh arus AC terhadap manusia

Perusahaan Gas Negara  melakukan pengujian kebocoran arus dengan mengalirkan tegangan 5000 V AC 50 hz selama satu menit dan maksimum kebocoran arus yang diizinkan adalah sebesar 5 mA.

Petronas Standard mensyaratkan pegujian dengan mengalirkan tegangan 2500 V AC (50-60 Hz) selama satu menit tanpa adanya kebocoran arus listrik.

2. Dielectric Strenght Test

Dielectric Strenght Test adalah sebuah pengujian untuk mengetahui kekuatan suatu material untuk menjadi sebuah isolator. Kekuatan Dielectric didefinisikan sebagai besarnya voltase maksimum yang dibutuhkan untuk menembus sebuah isolator dan didefinisikan dalam satuan Volt per unit ketebalan. Semakin besar nilai dielectricalnya maka semakin bagus sebuah isolator. Sebuah Insulating Joint harus mempunyai ketahanan dielectric minimal 2,5 KV/mm sesuai dengan ASTM D149.

Sesuai dengan ASTM D149 maka terdapat 3 prosedure pengetesan kekuatan dielectric yaitu :

  1. Short Time Method
  2. Slow rate of rise method
  3. Step by step method

Ketiga prosedur ini mempunyai tahap persiapan yang sama, salah satunya adalah sampel diletakkan diantara dua electrode dengan media udara atau oil.

Short time method adalah metode test yang paling umum dimana sampel mulai dialiri tegangan dari 0 dan naik secara  bertahap hingga ketahanan dielectricnya rusak yang ditandai dengan sampel mulai terbakar atau mulai terdekomposisi.

Slow rate of rise method dimulai dari 50  % breakdown voltage yang didapat dari short time test, dan kemudian naik perlahan secara bertahap.

Step by step method dimulai dari 50 % breakdown vltage yang didapat dari short time test, kemudian naik secara bertahap dengan jeda waktu tertentu hingga rusak. Test biasanya dilakukan dalam minyak untuk menghindari loncatan busur listrik dari elektroda ke grounding.

3. Painting/Coating DFT Check

Painting/Coating Dry Film Thickness (DFT) check adalah pengukuran ketebalan cat/coating setelah kering dalam satuan mils (0.001 inch) atau micrometer. Untuk pelaksanaan DFT mengacu pada The Society for Protective Coatings Paint Application Standard No. 2 (SSPC PA-2)

SSPC PA2 merekomendasikan 2 jenis gage untuk melakukan DFT yaitu :

1.      1. magnetic pull off gages 

 

Gambar 1. Magnetic Pull

Produk ini sudah digunakan sejak tahun 1950 dengan cara kerja magnet permanent dikontakkan dengan permukaan yang akan diukur. Gaya yang timbul untuk menarik magnet menempel ke permukaan logam diukur dan dikonversi menjadi ketebalan coating. Saat ini penggunaan gage tersebut sudah mulai menurun namun tetap banyak beredar dipasaran.

2. Electronic Gages1

Gambar 2. Electronic Gages

Tipe ini menggunakan sinyal electronic yang diubah menjadi nilai ketebalan coating dalam bentuk display monitor. Tipe ini banyak disukai orang karena lebih mudah, cepat dan akurat.

4. Visual dan Dimensional Check

Pengecekan secara langsung dimana bentuk insulating joint harus sesuai dengan dokumen teknis yang disertakan dan memenuhi keinginan pembeli. Secara detail mengenai dimensi dan visual dari insulating joint. Setidaknya harus memenuhi syarat sebagai berikut :

  1. Terbuat dari pipa seamless
  2. Welded End
  3. Diameter tengah harus sama dengan diameter pinggir
  4. Panjang insulating joint minimum 1,5 x diameter pipa
  5. Mempunyai Grounding lug
  6. Insulating surface ring terbuat dari laminated epoxy resin terpasang rapat
  7. Sealing gasket terbuat dari fluorinated elastomer dan terpasang rapat
  8. Tebal minimum material insulating 20 mm
  9. Tampilan dan bentuk insulating joint halus dan rapi.

Persyaratan 6,7 dan 8 ini diketahui dengan jalan membelah insulating joint menjadi dua hingga diketahui bentuk material insulating, gasket dan system penyambungan antara kedua pup piece.

5.Leak Test (With Helium)

Metode pengetesan menggunakan gas helium untuk mengidentifikasi lokasi kebocoran dan jumlah gas yang keluar. Pengetesan menggunakan helium ini jauh lebih akurat dibandingkan dengan hydrostatic test namun harus  mengunakan alat khusus dalam sebuah bejana/chamber dan menggunakan helium leak detector. Pengetesan ini harus benar-benar dilakukan dalam kondisi benar-benar kering, bebas air, minyak maupun komponen pengotor lain, karena dapat mempengaruhi pengetesan. Perusahaan GAs Negara mensyaratkan Tes kebocoran dengan menggunakan gas helium pada tekanan 5 barg. dan dilakukan setelah uji hidrostatik.

Gambar 3. Helium Leak Test

6. Manufacture Document

Perusahaan pembuat insulating joint harus menyediakan dokumen-dokumen setidaknya sebagai berikut :

  1. Sertifikat insulating Joint
  2. Gambar detail Insulating Joint
  3. Sertifikat material
  4. Sertifikat pengujian
  5. Sertifikat jaminan keaslian
  6. Surat Garansi
  7. Informasi mengenai insulating joint yang tertempel dan tidak bisa hilang dengan informasi sebagai berikut :
  8. nama atau nomor tag dari insulating joint,
  9. Manufaktur,
  10. kecocokan (inch) nominal diameter pipeline yang akan dikoneksikan,
  11. tebal ujung dari insulating joint (mm),
  12. material,
  13. tekanan desain,
  14. ANSI class rating,
  15. tahun pembuatan,
  16. nomor order,
  17. berat, dan
  18. informasi lain apabila dibutuhkan.

7. Impact Test

Insulating Joint harus dilakukan pengetesan terhadap beban luar yang kemungkinan akan terjadi seperti pengujian bending, tarik, tekan, geser, punter serta beban cyclic yang mungkin terjadi.

8. Manufacture Certificate

Perusahaan Gas Negara menyatakan bahwa manufaktur harus memiliki sertifikat ISO yangsesuai dengan ISO 9001 edisi terkini dan manajemen kualitas terdokumentasi yangmendefinisikan spesifikasi produk, prosesmanufaktur dan prosedur jaminan kualitasuntuk memastikan kesesuaiannya dengan persyaratan perusahaan dan peraturan yang berlaku.

 

Referensi :

  1. Final Report “Failure Analysis 4 Insulating Joint ”, PT Rekayasa Solverindo, 2014
  2. NACE Standard RP-0286 “Electrical Isolation of Cathodically Protected pipelines, 2002
  3. ISO 15589-1 “Petroleum and Natural Gas Industries – Cathodic Protection of pipelines- Transportation system”, 2003
  4. ASME B.3.1.1-2007 “Power Piping” ,2007
  5. Spesifikasi Teknis Material Insulating Joint PT PGN (Persero) Tbk.
  6. Total Fina ELF GSCOR 210 “Corrosion”, 2001
  7. Petronas Gas Berhad Standard No PGB/OGP–SP–0038–20B2-18, “Specification For Monolithic Insulating Joint”, 2000
  8. http://en.wikipedia.org/wiki/Hydrostatic_test
  9. http://www.wermac.org/others/ndt_pressure_testing.html
  10. http://www.intertek.com/polymers/testlopedia/dielectric-strength-astm-d149/
  11. http://wiryanto.wordpress.com/2010/02/25/semuanya-las-kapan-pakai-bautnya/
  12. http://expresiku2812.blogspot.com/2014/08/pengujian-non-destructive-test-ndt.html
  13. http://www.openelectrical.org/wiki/index.php?title=Insulation_Resistance_Test

http://www.ktauniversity.com/index.php/measuring-dry-film-coating-thickness-according-to-sspc-pa-2/